Kerjasama Bisnis TG:@LIUO9527
Posisi saat ini: Rumah / Pesan / Naturalisasi Boleh Saja, Lagi-lagi Pengamat Ingatkan PSSI soal Pembinaan

Naturalisasi Boleh Saja, Lagi-lagi Pengamat Ingatkan PSSI soal Pembinaan

Penulis:Wartawan Olahraga Tanggal:2025-08-29 15:30:02
Dilihat:3 Pujian
Penyerang FC Utrecht, Miliano Jonathans, telah mengumumkan bahwa ia akan melanjutkan karier internasionalnya bersama tim nasional Indonesia. (Bola.com/Dok. FC Utrecht)

Jakarta Belum lama ini, PSSI kembali menaturalisasi 5 pemain keturunan Indonesia. Kelima pesepakbola tersebut, dua pemain untuk timnas putra dan tiga pemain untuk timnas putri.

Mereka adalah Miliano Jonathans, Mauro Nils Zilstra, Isabel Corian Kopp, Isabelle Nottet dan Pauline Jeannette van de Pol.

DPR RI dalam rapat paripurna ke-4 telah menyetujui naturalisasi ke lima pemain tersebut tinggal pengambilan sumpah.

Langkah PSSI dalam melakukan naturalisasi pemain keturunan mendapatkan reaksi pro dan kontra dari masyarakat Indonesia.

Pengamat sepak bola, Arif Putra Wicaksono menyebut langkah PSSI melakukan naturalisasi adalah sebuah langkah tepat khususnya untuk pemain yang akan memperkuat Timnas Indonesia di ajang kualifikasi Piala Piala Dunia 2026 dimana Indonesia akan kembali berjuang memperebutkan satu tiket lolos ke Piala Dunia dengan bertanding di Round 4.

"Ini solusi terbaik khususnya untuk Piala Dunia 2026. Pemain yang dari kecil melewati proses pendidikan sepakbola level Eropa Barat tentu memiliki kemampuan yang jauh lebih baik dan pastinya bisa membantu meningkatkan standard generasi muda," kata Arif Putra Wicaksono kepada Bola.com, Kamis (28/8/2025) malam.


Pembinaan Harus Beriringan

Coach Timo Scheunemann, pelatih berlisensi UEFA A, berbagi pangalaman dan materi sepak bola kepada ratusan guru dalam coaching clinic di Supersoccer Arena, Rendeng, Kudus, Jawa Tengah, Sabtu (22/7/2023). Mater itu antara lain seputar penguasaan bola atau ball mastery, dribbling, passing, taktik menyerang dan bertahan, hingga program latihan sesuai standar sekolah sepak bola atau SSB. (foto: istimewa)

Namun, pria yang sering menjadi promotor kedatangan klub-klub besar di Eropa untuk bertanding dengan klub-klub Indonesia ini berharap pembinaan sepak bola Indonesia harus berjalan beriringan.

Artinya PSSI harus segera melakukan pembenahan sepak bola Indonesia secara holistik agar talenta-talenta lokal di tanah air bisa berkembang dengan baik dan mampu bersaing dengan pemain keturunan untuk masuk ke timnas Indonesia semua level.

Lanjutnya, pembenahan sepak bola Indonesia secara holistik berarti melakukan perbaikan menyeluruh dan terpadu pada seluruh aspek yang membentuk ekosistem sepak bola. Konsep ini menolak pendekatan parsial atau perbaikan tambal sulam yang selama ini sering dilakukan.


Pentingnya Fondasi

SSB Sulcata yang ditangani Hamka Hamzah berhasil menjuarai Piala Suratin U-13 Jakarta Selatan. (Bola.com/Istimewa)

Ini bukan hanya tentang mengganti pelatih atau memenangkan satu turnamen, tetapi tentang membangun fondasi yang kuat agar prestasi bisa berkelanjutan.

Selama ini, masalah di sepak bola Indonesia seringkali hanya dilihat dari satu sisi. Misalnya, ketika tim nasional kalah, fokus perbaikan hanya pada kualitas pemain atau pelatih. Padahal, kekalahan tersebut bisa jadi akibat dari masalah di hulu, seperti manajemen yang tidak profesional, kompetisi yang tidak sehat, atau pembinaan usia dini yang terbengkalai.

"Pembenahan sepakbola secara holistic, karena agak sulit saya melihat sepakbola berkembang secara terpisah, youth development saja, liga saja atau timnas saja," Arif Putra Wicaksono mengakhiri pembicaraan.

Komentar

Kirim komentar
Galat kode pemeriksaan, silakan masukkan kembali
avatar

{{ nickname }}

{{ comment.created_at }}

{{ comment.content }}

IP: {{ comment.ip_addr }}
{{ comment.likes }}